Tampilkan postingan dengan label Keturunan Nabi Muhammad di Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keturunan Nabi Muhammad di Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Mei 2010

SUKU ARAB DI INDONESIA

Di Indonesia, sejak jaman dahulu telah banyak di antara keturunan Arab Hadramaut yang menjadi pejuang-pejuang, alim-ulama dan da’i-da’i terkemuka. Banyak di antara para Walisongo adalah keturunan Arab, dan diduga kuat merupakan keturunan kaum Sayyid Hadramaut (Van Den Berg, 1886) atau merupakan murid dari wali-wali keturunan Arab. Kaum Sayyid Hadramaut yang datang sekitar abad 15 dan sebelumnya (Walisongo, kerabat dan ayahanda dan datuk mereka) mempunyai perbedaan fundamental dengan kaum Sayyid Hadramaut yang datang pada gelombang berikutnya (abad 18 dan sesudahnya).

Yang mana kaum Sayyid Hadramaut pendahulu, seperti dilansir Van Den Berg, banyak berasimilasi dengan penduduk asli terutama keluarga kerajaan-kerajaan Hindu dalam rangka mempercepat penyebaran agama Islam, sehingga keturunan mereka sudah hampir tak bisa dikenali. Sedangkan yang datang abad 18 dan sesudahnya banyak membatasi pernikahan dengan penduduk asli dan sudah datang dengan marga-marga yang terbentuk belakangan (abad 16-17) hingga saat ini sangat mudah dikenali dalam bentuk fisik tubuh dan nama.

Sampai saat ini, peranan warga Arab-Indonesia dalam dunia keagamaan Islam masih dapat terasakan. Mereka — terutama yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW — mendapat berbagai panggilan (gelar) penghormatan, seperti Syekh, Sayyid, Syarif (di beberapa daerah di Indonesia menjadi kata Apip, Wan atau Habib dari masyarakat Indonesia lainnya.

Di samping tokoh-tokoh agama, banyak pejabat negara dan tokoh terkenal Indonesia masa kini yang leluhurnya berasal dari Hadramaut. Nama-nama mereka antara lain:

* AR Baswedan (Menteri Penerangan 1947)
* Abdurahman Saleh (Jaksa Agung,2004-2007)
* Ahmad Albar (Artis penyanyi rock kelompok God Bless)
* Ali Alatas (Menteri Luar Negeri, 1988-1998)
* Alwi Shihab (Menteri Luar Negeri, 1999-2001; dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2004-2005)
* Assaat (pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS))
* Fuad Bawazier (Menteri Keuangan, 1998)
* Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 1985-1993)
* Husin Umar Alhajri (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiah Indonesia, 1940-2007)
* Mar’ie Muhammad (Menteri Keuangan, 1993-1998)
* Mark Sungkar (Aktor Indonesia)
* Muchsin Alatas (Artis penyanyi dangdut)
* Munir (Ketua LSM Kontras, aktivis anti kekerasan)
* Quraish Shihab ( Menteri Agama, 1998)
* Rusdy Bahalwan (Mantan pemain dan pelatih Tim Nasional Sepak Bola Indonesia)
* Salim Al-Idrus (Pemain Sepak Bola : Pelita Jaya, Persib Bandung,
* Saleh Afiff (Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri, 1993-1998)

Ritual Ziarah

Di Hadramaut, banyak pemimpin agama yang makamnya diziarahi. Demikian banyaknya jumlah mereka, hingga bila ada seseorang dari Jakarta yang tinggal selama 40 hari di Hadramaut, belum tentu dapat menjangkau seluruh tempat ziarah yang ada.

Tempat ziarah yang paling terkenal adalah “Qabr Hud”, yang menurut kepercayaan orang Hadramaut adalah makam nenek moyang mereka, Nabi Allah Hud AS. Qabr Hud terletak di sebuah lembah, dan terdapat sebuah masjid berdekatan dengannya. Setiap tanggal 11 Sya’ban tahun Hijriah, tempat ini banyak didatangi para penziah. Mereka bukan saja berasal dari Hadramaut, melainkan juga dari berbagai negara yang ‘memiliki’ banyak keturunan Hadramaut. Mereka biasanya tinggal di gedung-gedung bertingkat tiga yang hanya digunakan pada saat acara ziarah. Pada hari itu juga ada pasar raya, yang suasananya kira-kira seperti upacara Sekaten di Yogyakarta.

Menurut tradisi, untuk ziarah ini para peziarah sebaiknya mandi terlebih dahulu atau minimal berwudhu di telaga Hud; yang terletak di bawah makam Nabi Hud. Selama tiga hari, kepemimpinan ziarah di Qabr Hud dilakukan secara berganti-ganti. Hari pertama dipimpin munsib Alhabsji, hari kedua oleh munsib Shahabuddin, dan terakhir yang paling meriah dipimpin oleh munsib Binsechbubakar. Begitu meriahnya akhir ziarah ini, hingga peluru-peluru dihamburkan ke udara. Upacara itu dilakukan oleh para pengawal BinSechbubakar, yang dikenal berpengaruh di Hadramaut.

Kerajaan Arab Indonesia
Keturunan Arab di Indonesia juga mendirikan beberapa kerajaan Islam seperti :

* Kesultanan Pontianak, Kalbar
* Kesultanan Siak, Riau
* Kesultanan Pasir, Kaltim
* Kerajaan Kubu, Kalbar
* Kerajaan Sabamban, Kalsel

Nama-nama Marga

Nama-nama marga/keluarga keturunan Arab Hadramaut dan Arab lainnya yang terdapat di Indonesia, antara lain adalah:

* Abud (Qabil) – AbdulAzis (Qabil) – Addibani (Qabil) – Afiff (Qabil)- Alatas (Sayyid) – Alaydrus (Sayyid) – Albar (Sayyid) – AlBathathi (Qabil) – Algadrie (Sayyid)- Alhadjri (Qabil) – Alhabsyi (Sayyid) – AlHamid (Sayyid) – AlHaddar (Sayyid) – AlHaddad (Sayyid) – AlHinduan (Sayyid) – AlJufri (Sayyid) – Alkatiri (Qabil) – AlMasyhur (Sayyid) – AlMuhdar (Sayyid) – Assegaff (Sayyid) – Attamimi – AlMuhazir
* Ba’asyir (Qabil) – Baaqil (Sayyid) – Bachrak (Qabil) – Badjubier (Qabil) – Bafadhal – Bahasuan (Qabil) – Baraja (Syekh) – Basyaib (Qabil) – Basyeiban (Sayyid) – Baswedan (Qabil) – Baridwan – Bawazier (Sayyid) – BinSyechAbubakar (Sayyid)
* Haneman
* Jamalullail (Sayyid)
* Bin Zagr (Qabil)
* Maula Dawileh (Sayyid) – Maula Heleh/Maula Helah (Sayyid) – Martak (Qabil)
* Nahdi (Qabil)
* Shahab (Sayyid) – Shihab (Sayyid) – Sungkar (Qabil)
* Thalib
* Bahafdullah (Qabil)

Trivia

* Yang Dipertuan Agung Malaysia 2001-2006 Tuanku Syed Sirajuddin adalah juga tokoh dari marga Jamalullail, yang leluhurnya berasal dari Hadramaut. Demikian pula dengan Menteri Luar Negeri, Malaysia, Syed Hamid Albar.
* Mantan Perdana Menteri Timor Leste dan tokoh sentral partai Fretilin, Mari Alkatiri, adalah juga keturunan Hadramaut.
* Di Arab Saudi, banyak keturunan Arab Hadramaut yang menjadi pengusaha-pengusaha sukses, seperti marga-marga Bin Laden (keluarga Osama Bin Laden), Bin zagr, Bin Mahfud, Bawazier dan Nahdi.
* Di antara marga-marga Hadramaut dari keturunan Sayyid yang pertama-tama ke Indonesia adalah dari keluarga Basyaiban, yaitu Sayyid Abdul Rahman bin Abu Hafs Umar BaSyaiban BaAlawi pada abad ke-17 Masehi. Ia menikah dengan puteri Sunan Gunung Jati, Syarifah Khadijah. Pernikahan ini akhirnya menurunkan banyak kyai di Indonesia. Abu Hafs Sayyid Umar adalah guru dari Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, penasihat utama Sultan Iskandar Thani dari Aceh.

Sumber: http://romiattamimi.blogspot.com/2010/04/suku-arab-di-indonesia.html

Senin, 22 Maret 2010

Sunan Bonang Keturunan nabi Muhammad SAW

Silsilah Sunan Bonang:

Fatimah binti Rasulullah SAW
Sayyidina Husain
Zainal Abidin
Sayyid Muhammad al-Baqir
Sayyid Ja'far Shadiq
Ali al Uraidhi
Muhammad Naqib
Isa al Anshori
Ahmad al Muhajir
Alwi
Abdul Malik
Maulana Abdullah
Maulana Ahmad
Jamaluddin Husein
Ibrahim Asmoro
Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
Ibrahim Mahdum (Sunan Bonang)

Minggu, 14 Maret 2010

Silsilah waliyullah keturunan nabi di jawa-melayu

44 nama, 44 pribadi pembawa rahmat bagi dunia:
1. Yang terkasih Baginda Rasul Muhammad (bin 'Abdullah) saw.
2. Sayyidah Fatimah az-Zahra menikah dengan Sayyidina 'Ali
3. Sayyidina Hussayn bin 'Ali bin Abi Thalib
4. Sayyidina 'Ali Zayn-ul 'Abidin, dimakamkan di Madinah
5. Sayyidina Muhammad al-Baqir, dimakamkan di Madinah al-Munawwaroh
6. Sayyidina Ja'far as-Shadiq, dimakamkan di Madinah al-Munawwaroh
7. Sayyidina 'Ali al-'Uraidhi, dimakamkan di kota 'Uraidh, Madinah
8. Maulana Sayyid Muhammad an-Naqib, dimakamkan di Basrah, Iraq
9. Maulana Sayyid 'Isa ar-Rumi, dimakamkan di Basrah
10. Maulana Sayyid Ahmad al-Muhajir, dimakamkan di Husaysah, Hadhramawt
11. Maulana Sayyid 'Abdullah 'Ubaydillah di Hadhramawt, Yaman
12. Maulana Sayyid 'Alwi (al-'Awali al-Awwal), Sahal
13. Maulana Sayyid Muhammad Sahibus Saumiah, Bayt Jubayr
14. Maulana Sayyid 'Alawi at-Tsani, dimakamkan di Bayt Jubayr
15. Maulana Sayyid 'Ali Khali'Qasam, dimakamkan di Tarim
16. Maulana Sayyid Muhammad Shahib Mirbath di Zhufar
17. Maulana Sayyid 'Alawi Ammu al-Faqih di Tarim, Hadhramawt
18. Maulana Sayyid Malik al-Azhmat Khan di Nashrabad
19. Maulana Sayyid 'Abdullah, dimakamkan di Nashrabad, Delhi (kini India)
20. Maulana Sayyid Ahmad Jalal'uddin Syah al-Khan di Nashrabad
21. Maulana Sayyid Husain Jum'adil Kubro dimakamkan di Bugis
21.1 Maulana Sayyid Ibrahim Jum'adil Kubro dimakamkan di Wajo, Bugis
21.1.1 Maulana Sayyid Ishaq bin Sayyid Ibrahim Jum'adil Kubro
21.1.1.1 Maulana Sayyid Raden Paku 'Ainul Yaqin kanjeng Sunan Giri
21.1.1.1.1 Maulana Sayyid Zayn-al 'Abidin kanjeng Sunan Dalem
21.1.1.1.1.1 Maulana Sayid 'Ali Kusumowiro kanjeng Sunan Sedo Ing Margi
21.1.1.1.1.1.1 Maulana Sayid Muhammad Fadhullah kanjeng Sunan Prapen
21.1.1.1.1.1.1.1 Maulana Sayid Sulayman Panembahan Kawis Gua
21.1.2 Maulana Sayyid Raden Santri 'Ali Murtadho kanjeng Sunan Gresik II
21.1.2.1 Maulana Sayyid Raden 'Usman Haji kanjeng Sunan Ngudung
21.1.2.1.1 Maulana Sayyid Raden Ja'far Shodiq kanjeng Sunan Kudus
21.1.3 Maulana Sayyid Raden Ahmad Rahmatullah kanjeng Sunan Ampel
21.1.3.1 Maulana Sayyid Raden Makhdum Ibrahim kanjeng Sunan Bonang
21.1.3.2 Maulana Sayyid Raden Qasim Syarifuddin Hasyim kanjeng Sunan Drajat
21.1.3.3 Maulana Sayyid Raden Ahmad Hasan kanjeng Sunan Lamongan
21.1.3.4 Maulana Sayyid Raden Hamzah kanjeng Sunan Tumapel, Singhasari
21.2. Maulana Sayyid 'Ali Nurul Alam, wafat di Campa (1467)
21.2.1 Maulana Sayyid Wan Husain Khalifah Ampeldenta di Madura
21.2.2 Maulana Sayyid Wan Bo 'Abdullah Sultan Kelantan
21.2.2.1 Maulana Sayyid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Sultan Caruban
21.1.2.1.1 Maulana (Sayyid) Hasanuddin Sultan I Kesultanan Banten
21.1.2.1.1.1 Maulana (Sayyid) Yusuf bin Hasanuddin Sultan II Kesultanan Banten
21.1.3 Maulana Sayyid Wan Demali Raja Laksamana Bentan
44 nama, 44 pribadi dari makkah ke madinah, dari madinah ke
iraq, dari iraq ke yaman, dari yaman ke india, dari
india ke nusantara dan kelantan, menyebarkan salam-damai kepada dunia.

*Dikutip dari Catatan Harian Membuka Hati
Mas Yos Wiyoso Hadi, Pegawai Negeri di
Ditjen Pajak, Departemen Keuangan RI;
Pendiri bersama Komunitas SUARA, dan
Penggiat GIMSHS ( Gerakan Inklusif Moral
Komunitas Milist SuaraHati SUARA )

Darah nabi di bumi nusantara, benih terbaik menuju kejayaan akhir masa

Kata ‘Nusantara’, berasal dari kata-kata Mahapatih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada, dalam sumpahnya yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Bahwa dia tidak akan menikmati kesenangan dunia sebelum seluruh nusantara bersatu. Gajah Mada sendiri adalah sosok yang misterius, tidak diketahui dari mana asal-usulnya, kemudian tampil menjadi orang yang paling berpengaruh dari zaman ke zaman dengan konsep Nusantara-nya dan kemudian menghilang entah ke mana.

Wilayah Nusantara mengacu kepada kepada kawasan kepulauan Asia Tenggara, yang saat ini berada dalam wilayah negara Indonesia, Malaysia dan sekitarnya. Menurut pembagian kawasan dunia, wilayah ini terletak paling timur dalam peta dunia. Orang Eropa menyebut wilayah ini Timur Jauh. Pada abad-abad penjajahan bangsa Eropa, Nusantara biasa disebut Hindia Timur (East Indies). Begitu juga dengan orang Arab dan Timur Tengah, bila dikatakan ‘Timur’ maka dalam maksud lokal bisa bermaksud kawasan di sebelah timur Hijaz (kawasan Mekah dan Madinah), tapi dalam maksud yang lain berarti wilayah di arah timur di luar Jazirah Arab dan Teluk Persia: Nusantara.

Wilayah ini didiami oleh rumpun bangsa Melayu (Jawi). Saat ini terdapat sekitar setengah milyar penduduk mendiami wilayah ini. Dengan 300 juta orang diantaranya beragama Islam, menjadikan rumpun bangsa Melayu adalah bangsa Muslim terbesar di dunia. Bahkan lebih besar dibandingkan seluruh bangsa Arab yang merupakan menjadi bangsa Muslim pertama. Suatu fenomena yang tidak dijumpai pada bangsa manapun di dunia.

Sejarah keislaman Nusantara dan Bangsa Melayu bermula sangat awal sekali. Telah ditemukan beberapa makam Sahabat Nabi Muhammad SAW di Nusantara. Salah satu yang paling terkenal adalah makam Syeikh Rukunuddin di Barus (Fansur), Sumatera Utara. Pada makamnya tertulis bahwa beliau wafat pada tahun 48 H. Tidak diketahui siapa nama Syeikh Rukunuddin sebenarnya, tapi dari tanggal wafatnya kita bisa mengatakan bahwa kemungkinan beliau adalah salah sorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu orang yang hidup sezaman dan berjumpa dengan beliau. Para sahabat dan tabiin telah memulai gelombang awal sejarah Islam di Bumi Nusantara.

Pada periode berikutnya, Islam semakin deras mengalir khususnya ke Pulau Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaysia, dan Kamboja (Campa). Sekitar abad ke 13 M, banyak cabang-cabang keluarga keturunan Nabi Muhammad SAW (Ahlul Bait) mulai meninggalkan Hadramaut (Yaman) di wilayah selatan Jazirah Arab, terutama setelah serbuan Bangsa Mongol ke Baghdad. Tersebutlah Sayyid Ahmad Jalal Syah yang menjadi gubernur di India Barat. Salah seorang puteranya yang bernama Sayyid Jamaluddin Al Hussein berpindah ke Campa dan kemudian lebih terkenal dengan nama Syeikh Jumadil Kubra.

Seorang putera Syeikh Jumadil Kubra yang bernama Sayyid Ali Nurul Alam mengasaskan berbagai kesultanan di Campa, Semenanjung Malaya, Pattani (Thailand Selatan), Sumatera, Kalimantan dan Brunei (Borneo) serta di kawasan Filipina. Tercatat raja pertama dinasti Islam Campa adalah anak dari Sayyid Ali Nurul Alam, yaitu Raja Wan Bo (Sayid Abdullah ibn Ali Nurul Alam).

Puteranya yang lain adalah Syeikh Ibrahim Al Akbar As Samarkand (Sunan Maulana Malik Ibrahim/ Sunan Maghribi/ Syeikh Asmarakandi). Inilah cikal bakal Wali Songo di tanah Jawa. Dari keluarga Syeikh Asmarakandi lahir Sunan Ampel, Sunan Drajad dan Jaka Tarub yang keturunannya menjadi ulama-ulama dan raja-raja Jawa (Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, Banten dst). Keluarga Ahlul Bait ini kemudian dengan cepat membaur dan segera mencorak Nusantara dengan Islam.

Pada waktu itu keluarga ini datang ke Jawa Timur, pusat pemerintahan Majapahit, kerajaan yang mengalami kemunduruan setelah sebelumnya menjadi pemimpin Nusantara. Kehadiran Sunan Ampel diterima dengan baik oleh penguasa Majapahit saat itu. Walaupun Majapahit masih tetat kerajaan Hindu tapi tidak sedikit warganya yang telah memeluk Islam. Bahkan akhirnya Raja Majapahit, Brawijaya V (Bhre Kertabumi) kemudian memeluk Islam. Anak-anaknya dididik langsung oleh Sunan Ampel. Salah satunya adalah Raden Patah (Fatah) yang kemudian menjadi menantu Sunan Ampel dan selanjutnya mengasaskan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa: Kesultanan Demak. Raden Patah menjadi raja Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar Al Fatah.

Hampir bersamaan dengan itu, salah seorang ahlul bait keturunan ke-31 dari Sayidina Hussain (cucu Nabi Muhammad SAW) yang lahir dan dibesarkan di daratan Cina, mengadakan ekpedisi pelayaran ke berbagai tempat di dunia, dan secara satah satunya khusus datang ke Nusantara dengan puluhan kapal bersama hampir 30.000 orang anggota armadanya. Inilah satu ekpedisi pelayaran terbesar dalam sejarah. Dia bernama Zheng He, dan lebih terkenal dengan nama Laksamana Ceng Ho. ‘Show force’ Laksamana Ceng Ho dengan armadanya yang luar biasa besar namun membawa misi perdamaian, membantu menstabilkan kondisi politik kerajaan-kerajaan di Nusantara setelah memudarnya kejayaan Majapahit pasca Gajah Mada dan juga membantu memperkenalkan Islam sebagai agama yang damai dan universal. Dengan demikian perkembangan Islam menjadi semakin pesat dan berwibawa.

Maka kemudian datang gelombang Ahlul Bait pada abad ke-18 M. Hal ini juga didorong oleh terjadinya serangan di Hijaz oleh Muhammad ibn Saud (Bani Saud) dan Muhammad ibn Abdul Wahhab yang di kemudian hari lebih banyak disebut sebagai gerakan Wahabi (Wahhabism). Serangan ini didukung oleh Inggris yang berkepentingan untuk menjatuhkan Turki Utsmani dan kemudian memicu konflik antara Turki Utsmani dan dinasti Saud (Ottoman-Saudi War) setelah sebelumnya mengakibatkan terusirnya kalangan Ahlul Bait dari Hijaz. Sebagian ada yang berpindah ke utara dan mendirikan kerajaan Bani Hasyim/Al Hasyimi di Yordania (The Hashemite Kingdom of Jordan) dan sebagian bergerak ke timur menuju Nusantara.

Berbeda dengan para pendahulunya yang telah berbaur dengan ras Melayu, mereka yang datang pada periode ini lebih mudah dikenali secara fisik sebagai sebagai keturunan Arab. Dan umumnya mereka juga mengekalkan marga-marga ahlul bait hingga ke saat ini. Juga lazim dikenal sebagai panggilan Sayyid, Syarif, Habib, Wan, Tok, Tengku dan lain sebagainya.

Inilah salah satu keajaiban bangsa Melayu, darah Rasul telah mengalir dalam darah mereka dan mengalirkan keberkahan tersendiri. Rupanya orang-orang muslim terdahulu, khususnya dari kalangan Ahlul Bait terdahulu dengan sangat serius dan terarah menyiarkan dakwahnya ke Bumi Nusantara. Menjadikan bangsa Melayu menjadi bagian dari keluarga besar Nabi Muhammad SAW, seolah-olah Bumi Nusantara di Timur ini adalah tanah air kedua bagi Islam dan keluarga yang mulia ini. Terlebih setelah mereka terusir dari tanah airnya sendiri. Bahkan ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada, ‘pendiri’ Nusantara yang misterius itu, tidak lain adalah salah seorang muslim dari kalangan Ahlul Bait. Wallahu ‘alam.

“Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih daripada dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak hingga datanglah Panji-panji Hitam dari Timur. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikan. Maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan. Siapa di antara kamu atau keturunanmu yang hidup pada masa itu, datangilah Imam dari ahli keluargaku itu walaupun terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya, mereka adalah pembawa Panji-panji Al Mahdi. Mereka akan menyerahkannya kepada seorang lelaki dari ahli keluargaku yang namanya seperti namaku, dan nama ayahnya seperti nama ayahku. Dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan..” (H.R. Abu Daud, At-Tarmizi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Abus Syeikh, Ibnu Adi, Abu Dhabi, Ibnu Asakir & Abu Nuaim)

Sumber :http://cerminkaka.blogspot.com/2009/07/darah-nabi-di-bumi-nusantara-benih.html

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons